Teman Baru dari Hutan: Anak Gajah di Taman Wisata Alam Buluh Cina

Sabtu, 21 Juni 2025 | 12:20:38 WIB

Pekanbaru, Catatanriau.com - Seekor anak Gajah telah lahir dari pasangan Gajah binaan “Robin” dan induknya bernama “Ngatuni” di Taman Wisata Alam Buluh Cina pada Senin, 4 November 2024 sekitar pukul 00.50 WIB.

Kepala Balai KSDA Riau, bapak Genman S. Hasibuan, segara turun ke lokasi yang di dampingi drh. Rini Deswita dan para mahout untuk melakukan pengecekan kesehatan dan pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, penambah darah serta penambah nafsu makan.

Anak Gajah berjenis kelamin betina dengan berat 104 kg serta ukuran lingkar dada 112 cm dan tinggi bahu 83 cm terlihat sehat dan mulai menyusu pada induknya. Sang Induk Ngatini, yang saay ini berumur 24 tahun juga terlihat sehat dan bersemangat menyantap makanan yang telah disiapkan para mahout untuknya.

Seluruh para pihak kepentingan gang konsen terhadap kelestarian satwa gajah menyambut gembira kelahiran satwa dilindungi binaan ini yang memang telah lama dinantikan.

Dengan berhasilnya kehamilan sampai satwa melahirkan cukup menunjukkan bahwa TWA Buluh Cina sebagai salah satu kawasak konservasi di Provinsi Riau masih cukup kondusif untuk mendukung kehidupan dan kelestarian satwa liar yang dilindungi.

Kelahiran gajah ini merupakan bentuk komitmen serius Balai Besar KSDA Riau dalam berupaya melestarikan Gajah Sumatera di Indonesia.

KSDA Riau juga menjalin kerja sama erat dengan masyarakat sekitar untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam menjaga lingkungan. Warga setempat bahkan dilibatkan sebagai pemandu dan penjaga kawasan, yang secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan mereka melalui sektor ekowisata.

Kepala KSDA Riau menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti nyata pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga mitra. “Gajah Sumatera adalah salah satu ikon satwa Indonesia yang kini terancam punah. Dengan menjaga habitatnya di Buluh Cina, kita tidak hanya menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem hutan Riau,” ujarnya.

Keberhasilan konservasi ini diharapkan menjadi contoh positif bagi daerah lain yang memiliki spesies satwa langka. KSDA Riau juga tengah merancang program edukasi dan wisata konservasi yang ramah lingkungan untuk mengenalkan pentingnya pelestarian gajah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Dengan langkah-langkah ini, TWA Buluh Cina semakin diakui sebagai salah satu model keberhasilan konservasi satwa liar di Indonesia.***

Laporan : Purba

Terkini