Rumah Singgah Tuan Kadi: Jejak Sejarah di Jantung Kota Lama

Sabtu, 21 Juni 2025 | 12:03:11 WIB
Rumah Singgah Tuan Kadi (Rumbai, Pekanbaru)

Pekanbaru, Catatanriau.com  (6 Desember 2024) – Rumah Singgah yang terletak di Pekanbaru Provinsi Riau, hidup kembali setelah sekian tahun ‘mati’ dan hanya menyimpan sejarah. Bangunan bersejarah yang menjadi tempat singgah bagi sultan Kerajaan Siak itu kini mulai menggeliat kembali.

Bangunan Rumah Tuan Kadi di jalan Perdagangan Senapelan ini dibangun tahun 1896. Direnovasi pertama kali tanggal 23 bulan Juli tahun 1928, sampai tahun 2002, masih dalam kondisi sebagaimana renovasi 1928 mengganti tangga dan tiang awalnya kayu diganti dengan batu/semen.

Rumah Tuan Kadi, yang terletak di Kampung Bandar, Senapelan, Pekanbaru, memiliki sejarah panjang terkait dengan Kesultanan Siak. Sultan akan menggunakan rumah ini sebagai tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah Tuan Kadi lainnya yang berada di belakang Masjid Raya Pekanbaru. 

Rumah singgah ini dibangun oleh Nurdin Putih asal Pangkalan Koto Baru (Kabupaten 50 Koto), Rumah ini sudah direhab untuk kepentingan pemanfaatannya secara maksimal oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau. Rumah Tuan Kadi ini biasa juga disebut dengan rumah singgah, karena jika Sultan Siak turun dari kapal gato di pelabuhan, maka beliau akan singgah sejenak di rumah Tuan Kadi ini.

Rumah Singgah ini juga memberikan gambaran bagaimana kondisi Pekanbaru pada awal abad ke-20, dimana pembangunannya dimulai dari tepi Sungai Siak. Mulai dari penyebaran bangunan (rumah penduduk, masjid, pasar dan makam), bentuk bangunan dan penyebaran penduduk, yang sudah mulai merata di sepanjang tepi Sungai Siak. Disebut rumah singgah, karena tatkala Sultan Syarif Kasim II ke Pekanbaru dan turun dari kapal di pelabuhan, maka Sultan Siak ini singgah sebentar di rumah Tuan Kadi ini.

Rumah Tuan Kadi, juga dikenal sebagai Rumah Singgah Tuan Kadi, memiliki beberapa keunikan yang menjadikannya cagar budaya yang penting di Pekanbaru. Rumah ini dibangun dengan gaya Melayu tradisional, berbentuk panggung dan didominasi oleh kayu, kecuali bagian tangga yang terbuat dari bata. Keunikan lainnya adalah sejarahnya sebagai tempat persinggahan Sultan Siak ketika berkunjung ke Pekanbaru, yang memberikan nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Selain itu, Rumah Tuan Kadi juga memiliki bentuk atap limas yang khas dan konstruksi yang unik, dimana bagian tangga dan penyangga bangunan tidak dibangun bersamaan. 

Secara arsitektur, Rumah Tuan Kadi menonjolkan ciri khas rumah panggung Melayu dengan penggunaan material kayu yang dominan. Bagian atapnya berbentuk limas, yang tidak hanya memberikan nilai estetika tetapi juga berfungsi untuk melindungi bangunan dari cuaca ekstrem. Konstruksi bangunan ini juga menarik karena bagian tangga dan penyangga bangunan tidak dibangun secara bersamaan, menunjukkan bahwa proses pembangunannya dilakukan secara bertahap. Rumah ini menjadi simbol identitas kebanggaan masyarakat Riau dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi. 

Saat ini, Rumah Singgah Tuan Kadi tidak hanya menjadi situs bersejarah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan budaya dan ekonomi. Pemerintah Kota Pekanbaru actively mengembangkan kawasan ini sebagai tempat wisata dan ruang ekspresi masyarakat, dengan berbagai acara seperti festival kuliner Melayu dan kegiatan budaya lainnya. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat bagi UMKM untuk berdagang dan memperkenalkan produk-produk lokal mereka.

Pentingnya pelestarian Rumah Singgah Tuan Kadi tidak hanya terletak pada aspek sejarahnya, tetapi juga pada peranannya dalam melestarikan budaya Melayu dan mendukung perekonomian masyarakat setempat. Dengan terus menjaga dan merawat situs ini, generasi mendatang dapat belajar tentang sejarah dan budaya Pekanbaru, serta merasakan kehangatan keramahan lokal.***


Penulis : SUCI JUANDA PUTRI (Mahasiswi Universitas Islam Riau)

Terkini