Perjuangan Panjang Helin Melawan Kelainan Jantung, Keluarga Berharap Uluran Tangan untuk Berobat ke Jakarta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:51:51 WIB

DUMAI, CATATANRIAU.COM – Di usia yang masih begitu belia, Helin Helina harus menjalani perjuangan yang tidak mudah. Balita yang tinggal di Jalan Bambu RT 018, Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, itu tengah berjuang melawan kelainan jantung bawaan yang telah dideritanya sejak lahir.

Di balik tubuh mungilnya, Helin harus menghadapi kondisi medis yang cukup serius. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Helin didiagnosis mengalami Atrial Septal Defect (ASD) berukuran 7 milimeter dan Ventricular Septal Defect (VSD) berukuran 8 milimeter.

Kondisi tersebut menyebabkan Helin mengalami Atrioventricular Septal Defect (AVSD) inkomplit serta Pulmonary Hypertension (PH) atau tekanan tinggi pada pembuluh darah paru-paru.

Bagi kedua orang tuanya, setiap hari bersama Helin menjadi perjuangan sekaligus harapan. Mereka hanya ingin melihat putri kecilnya tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya.

Namun, untuk mewujudkan harapan itu, keluarga harus menempuh perjalanan panjang dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas kesehatan lainnya.

Dari Puskesmas hingga Pekanbaru

Selama sekitar satu bulan terakhir, orang tua dan keluarga besar Helin terus berusaha mencari jalan terbaik untuk mendapatkan penanganan medis.

Perjalanan itu dimulai dari puskesmas. Dari sana, Helin kemudian mendapatkan rujukan dan menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Naray. Upaya pengobatan kemudian berlanjut hingga ke Rumah Sakit Arifin Achmad di Pekanbaru.

Keluarga tidak menyerah. Meski harus menghadapi keterbatasan biaya dan perjalanan yang tidak mudah, mereka terus mendampingi Helin demi mendapatkan penanganan terbaik.

Namun, harapan itu kembali diuji ketika dokter menyarankan agar Helin dirujuk ke rumah sakit di Jakarta.

Menurut keluarga, rujukan tersebut diperlukan karena Helin membutuhkan penanganan yang lebih serius dengan dukungan fasilitas dan peralatan medis yang lebih lengkap.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, dari puskesmas, ke rumah sakit, sampai ke Pekanbaru. Tapi dokter mengatakan Helin harus ke Jakarta karena alat dan perawatannya lebih lengkap di sana," tutur Atai, ayah Helin.

Ucapan itu keluar dengan penuh harap. Bagi Atai, Jakarta bukan sekadar tujuan perjalanan. Di sana ada harapan agar anaknya mendapatkan kesempatan untuk sembuh dan menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya.

Penghasilan Tak Menentu, Biaya Pengobatan Jadi Beban

Di tengah perjuangan tersebut, keluarga Helin harus menghadapi persoalan lain yang tidak kalah berat, yakni keterbatasan ekonomi.

Atai sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan. Penghasilannya tidak tetap. Ada hari ketika pekerjaan datang, namun ada pula waktu ketika ia tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali.

Sementara itu, ibu Helin turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan membuat batako. Namun pekerjaan tersebut juga hanya dilakukan ketika ada pesanan.

Penghasilan yang terbatas membuat keluarga harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pengobatan Helin.

"Penghasilan saya tidak menentu, kadang ada kerja, kadang tidak. Ibu Helin juga hanya bisa membuat batako kalau ada pesanan. Kami benar-benar kesulitan untuk biaya pengobatan Helin," ujar Atai dengan nada sendu.

Bagi keluarga, persoalannya kini bukan sekadar biaya perjalanan menuju Jakarta. Mereka juga harus memikirkan kebutuhan selama proses pengobatan dan perawatan Helin.

Meski demikian, kedua orang tuanya tetap berusaha bertahan. Mereka percaya masih ada jalan selama ikhtiar terus dilakukan.

Pemerintah Kelurahan Ikut Bergerak

Kondisi Helin turut mendapat perhatian dari lingkungan sekitar. Pemerintah kelurahan bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) berupaya membantu keluarga agar Helin dapat segera mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.

Ketua LPMK Hendriyanto bahkan turut bergerak menggalang dukungan dan donasi untuk membantu keluarga Helin.

Menurutnya, kondisi Helin membutuhkan perhatian bersama. Ia berharap kepedulian masyarakat, pemerintah, perusahaan maupun para dermawan dapat membantu meringankan beban keluarga.

"Kami bersama pemerintah kelurahan bergerak cepat. Helin harus segera dibawa ke Jakarta agar mendapatkan penanganan serius. Kami membuka pintu seluas-luasnya bagi para dermawan yang ingin membantu," ujar Hendriyanto.

Berharap Bertemu Wali Kota Dumai

Selain mengupayakan bantuan dari masyarakat, keluarga Helin juga berencana bersilaturahmi dengan Wali Kota Dumai dalam waktu dekat.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat menjadi jalan bagi keluarga untuk menyampaikan langsung kondisi Helin sekaligus meminta dukungan pemerintah dalam proses rujukan dan pengobatan ke Jakarta.

Atai berharap pemerintah kota dapat membantu memfasilitasi kebutuhan Helin sehingga proses keberangkatan dan penanganan medis putrinya dapat segera dilakukan.

"Insya Allah dalam waktu dekat kami akan silaturahmi ke Wali Kota Dumai. Kami ingin menyampaikan langsung kondisi Helin dan berharap ada perhatian dari pemerintah kota untuk membantu kesembuhan anak kami," katanya.

Uluran Tangan untuk Helin

Kini, keluarga besar Helin hanya bisa terus berikhtiar sambil mengetuk pintu kepedulian banyak pihak.

Mereka berharap bantuan dapat datang dari pemerintah, perusahaan, para pengusaha, komunitas, maupun masyarakat luas yang memiliki kepedulian terhadap kondisi Helin.

Bagi keluarga, bantuan sekecil apa pun sangat berarti. Sebab, di balik setiap bantuan itu ada harapan agar Helin dapat segera mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan.

"Kami berharap ada pihak yang tergerak membantu biaya pengobatan Helin. Waktu sangat mendesak. Kami butuh uluran tangan agar Helin bisa segera berangkat ke Jakarta," tutur Atai.

Perjuangan Helin masih panjang. Di usianya yang masih belia, ia belum mengerti beratnya penyakit yang sedang dihadapinya. Yang ia tahu, ada ayah dan ibu yang selalu berada di sisinya, berusaha mencari jalan agar dirinya bisa sembuh.

Kini, harapan itu juga dititipkan kepada kepedulian masyarakat.

Semoga semakin banyak tangan yang terulur, semakin banyak doa yang dipanjatkan, dan semakin terbuka jalan bagi Helin untuk mendapatkan pengobatan terbaik.

Karena bagi sebuah keluarga, tidak ada harapan yang lebih besar selain melihat anaknya kembali sehat, tersenyum, dan tumbuh tanpa harus terus berjuang melawan sakit.***

Terkini