Kapal Harimau Buas Jadi Daya Tarik Pawai Perahu Hias MTQ Riau, Angkat Jejak Perjuangan Kesultanan Siak

Minggu, 28 Juni 2026 | 11:13:46 WIB

Kuansing, Catatanriau.com – Penampilan replika Kapal Harimau Buas milik Kafilah Kabupaten Siak mencuri perhatian ribuan masyarakat yang menyaksikan Pawai Perahu Hias dalam rangka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 Tingkat Provinsi Riau di Sungai Batang Kuantan, Sabtu (27/6/2026).

Berbeda dengan peserta dari daerah lain, perahu hias yang ditampilkan Kabupaten Siak mengangkat tema sejarah Kesultanan Siak dengan balutan nilai-nilai Islam. Replika tersebut menggambarkan Kapal Harimau Buas yang menjadi simbol perjuangan Kesultanan Siak pada Perang Guntung tahun 1759 saat menghadapi tekanan dan blokade VOC.

Koordinator Pawai Ta'aruf Kafilah Kabupaten Siak, Tengku Zulkarnain, mengatakan replika kapal tersebut bukan sekadar karya seni atau hiburan, melainkan media edukasi sejarah yang mengusung tema "Spirit Al-Qur'an dalam Perjuangan Sultan Siak."

"Melalui Kapal Harimau Buas, kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan para Sultan Siak selalu berpijak pada nilai-nilai Al-Qur'an. Kekuatan sebuah negeri lahir dari iman, ilmu, persatuan, serta kepemimpinan yang amanah," ujarnya.

Menurut Zulkarnain yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Siak, konsep tersebut dirancang untuk mengingatkan masyarakat bahwa kejayaan Kesultanan Siak dibangun melalui perpaduan syariat Islam, adat Melayu, dan semangat mempertahankan kedaulatan negeri.

Ia menjelaskan, dua belas dayung yang terpasang di sisi kanan dan kiri kapal melambangkan dua belas Sultan yang pernah memimpin Kesultanan Siak. Simbol tersebut menggambarkan kesinambungan kepemimpinan Melayu yang berlandaskan ajaran Islam dan adat istiadat.

Tidak hanya replika kapal, tokoh-tokoh yang berada di atasnya juga memiliki makna filosofis. Sosok Sultan Siak diperankan oleh Kerabat Resam Siak sebagai lambang pemimpin yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam menjalankan pemerintahan.

Sementara itu, Bupati dan Wakil Bupati Siak turut berada di atas kapal sebagai representasi keberlanjutan kepemimpinan daerah yang berkomitmen menjaga warisan sejarah, budaya Melayu, dan nilai-nilai keislaman. Tujuh panglima kerajaan yang diperankan anggota Dewan Kesenian Siak melambangkan hulubalang yang siap menjaga kehormatan negeri.

Zulkarnain menuturkan, seluruh elemen yang ditampilkan dalam Kapal Harimau Buas menggambarkan empat pilar utama peradaban Melayu Siak, yakni umara, ulama, adat, dan hulubalang.

Menurutnya, umara melambangkan kepemimpinan yang adil dan amanah, ulama sebagai pembimbing spiritual masyarakat, adat sebagai identitas Melayu yang berjalan seiring syariat Islam, sedangkan hulubalang menjadi simbol keberanian dalam menjaga negeri.

"MTQ bukan hanya tentang perlombaan membaca Al-Qur'an. Kami ingin memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Al-Qur'an telah menjadi bagian dari sejarah, budaya, pemerintahan, hingga kehidupan masyarakat Melayu. Itulah warisan yang ditinggalkan para Sultan Siak kepada generasi sekarang," katanya.

Ia berharap kehadiran Kapal Harimau Buas tidak hanya menjadi tontonan menarik bagi masyarakat, tetapi juga mampu menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya menjaga agama, persatuan, adat istiadat, serta kecintaan terhadap tanah air sebagaimana diwariskan para pendahulu Kesultanan Siak.

Melalui tema "Spirit Al-Qur'an dalam Perjuangan Sultan Siak", Kabupaten Siak berupaya menghadirkan pesan bahwa kejayaan sebuah negeri akan tetap terjaga apabila kepemimpinan, ulama, adat, dan masyarakat berjalan seiring dalam naungan nilai-nilai Al-Qur'an.***

Terkini