Dumai, Catatanriau.com 26/06/2026 — Hari-hari warga di Kelurahan Lubuk Gaung, tepatnya di RT 12, kini tak lagi nyaman. Bukan hanya harus berhadapan dengan genangan air setiap musim hujan tiba, tapi juga janji-janji manis dari perusahaan besar di depan mata mereka, PT Energi Sejahtera Mas (ESM), yang tak kunjung terealisasi.
Ketua RT 12, Tugiran, dengan ekspresi kecewa menceritakan duduk perkara yang sudah berlarut-larut. Menurutnya, masalah utama yang paling mendera adalah saluran air sepanjang kurang lebih 800 meter yang kini mampet dan tak terawat. Akibatnya, setiap hujan deras mengguyur, air dengan cepat meluap dan menggenangi halaman rumah warga. Tak hanya merepotkan, genangan itu juga kerap mengeluarkan bau menyengat yang menusuk hidung, apalagi di musim pancaroba seperti sekarang.
Yang lebih meresahkan, parit yang notabene semak belukar itu kini diduga menjadi sarang ular. Beberapa kali warga dikejutkan dengan kemunculan reptil melata dari balik semak. "Anak-anak main di halaman saja kami was-was," ujar Warga yang enggan di sebutkan namanya

Belum cukup sampai di situ, warga yang tinggal di bibir pagar perusahaan juga harus berjuang melawan suara bising yang tak pernah berhenti. Siang malam, 24 jam penuh, deru mesin pabrik terdengar nyaring mengganggu ketenangan. "Tidur pun susah, apalagi istirahat, suara bising itu terus terdengar, rasanya tak pernah ada jeda," keluh salah seorang warga yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari pagar perusahaan. Bagi mereka yang tinggal paling dekat, kebisingan ini sudah seperti "teman" yang tak diundang namun selalu hadir setiap waktu.
Lantas, apa yang dilakukan perusahaan? Tugiran mengungkapkan bahwa wacana pembuatan saluran drainase memang sudah lama digulirkan. "Katanya parit akan dibuatkan drainase, tapi ya sampai sekarang itu hanya ucapan. Belum ada satu pun tindakan nyata," sesalnya. Tak ada alat berat, tak ada pekerja, yang ada hanyalah janji yang terus berulang tanpa ujung. Warga pun mulai kehilangan kepercayaan, sebab yang mereka dapat selama ini hanyalah "isapan jempol belaka".
Tak hanya soal parit, akses jalan menuju pemukiman warga pun kini memprihatinkan. Jalan aspal yang ada sudah rusak parah, berlubang di sana-sini, bahkan sebagian besar ruas jalan masih berupa tanah yang setiap hujan turun berubah menjadi kubangan lumpur. "Kalau hujan, jalan becek dan penuh genangan, susah dilalui, apalagi kalau malam," keluh warga. Kondisi ini semakin menyulitkan aktivitas sehari-hari, terutama bagi anak-anak yang hendak berangkat sekolah dan warga yang hendak pergi bekerja.
Namun, keluhan warga RT 12 tak berhenti di persoalan lingkungan dan infrastruktur. Satu lagi yang membuat dahi mereka berkerut adalah soal rekrutmen tenaga kerja. Tugiran menyampaikan bahwa perusahaan sering kali mengumumkan penerimaan karyawan. Warga yang sudah bersusah payah mengantarkan lamaran, bahkan dengan rekomendasi resmi dari RT, tak satu pun mendapat panggilan. Tak ada kabar, tak ada tes, semuanya menguap begitu saja.
"Terkesan perusahaan hanya memberi angin segar untuk membungkam kami," keluh Tugiran.
Dengan nada lirih, pria yang menjabat sebagai ketua RT itu bahkan menyebutkan satu-satunya kontribusi PT ESM yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga hanyalah masjid yang dibangun di tengah pemukiman. Sisanya, ia menuding, hanyalah pencitraan semata.
Warga berharap agar perusahaan melalui bagian Humas bisa lebih tanggap dan menjadi perpanjangan tangan untuk menyampaikan aspirasi warga ke tingkat manajemen, bukan malah bungkam seribu bahasa.
Hingga berita ini diturunkan, wartawan sudah berupaya mengonfirmasi pihak perusahaan melalui sambungan WhatsApp, termasuk mencoba menghubungi Bigger Berianto selaku SSL & IR Section Head PT ESM yang kerap muncul sebagai juru bicara perusahaan dalam berbagai kegiatan CSR. Namun, hingga detik ini, Humas PT ESM masih memilih bungkam dan tak memberikan jawaban atas deretan keluhan masyarakat Dumai ini.***