Tembilahan, Catatanriau.com - Haji Azhari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indragiri Hilir menegaskan komitmennya untuk terus mendukung persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sikap ini disampaikan sebagai bagian dari peran MUI dalam menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah di tengah masyarakat yang majemuk.
Ketua MUI Inhil menyampaikan, persatuan bangsa adalah amanah konstitusi sekaligus perintah agama yang wajib dijaga. Menurutnya, perbedaan suku, budaya, dan latar belakang bukan penghalang untuk tetap berada dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Dalam konteks ini, MUI Inhil juga menyoroti fenomena yang belakangan ramai di media sosial, yakni penggunaan bendera bajak laut dari serial animasi One Piece di ruang publik. Dari perspektif MUI, simbol tersebut tidak memiliki relevansi dengan semangat persatuan NKRI, bahkan dikhawatirkan bisa mengaburkan makna simbol-simbol resmi negara.
Sebagai Majelis Ulama Indonesia, dengan tegas kami menyampaikan bahwa pengibaran simbol seperti bendera One Piece tidak tepat pada waktu dan konteksnya — terlebih ketika semangat Merah Putih harus menjadi pusat perhatian. Kami menyerukan agar aparat penegak hukum merespons fenomena ini dengan pendekatan persuasif, bukan represif. Anak-anak muda kita punya potensi besar; kreatifitas mereka bisa diarahkan ke hal-hal konstruktif dan solutif yang membangun bangsa
Saya mengajak masyarakat Inhil: mari isi bulan kemerdekaan ini dengan kreativitas yang memuliakan identitas kebangsaan. Simbol kebanggaan Merah Putih dijunjung tinggi, baik di puncak gunung, di tengah laut, maupun luar negeri — semua menunjukkan semangat persatuan yang sesungguhnya
"Bendera negara adalah simbol kehormatan dan kedaulatan. Mengibarkan bendera atau lambang yang tidak mencerminkan nilai-nilai kebangsaan di momen atau tempat yang seharusnya menjunjung simbol resmi negara dapat memunculkan tafsir yang keliru di masyarakat," jelas Ketua MUI Inhil.
MUI mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak memilih simbol dan atribut yang digunakan di ruang publik. Alih-alih membawa lambang fiksi yang tidak relevan, MUI mendorong penggunaan simbol-simbol yang menguatkan rasa cinta tanah air dan menghormati nilai-nilai luhur bangsa.
Melalui pernyataan ini, MUI Inhil menegaskan bahwa menjaga persatuan bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga tindakan, termasuk dalam hal penggunaan simbol. Semua elemen masyarakat diharapkan berkontribusi aktif dalam memperkokoh NKRI demi masa depan bangsa yang lebih baik.***
Laporan : Purba