Indragiri Hilir, Catatanriau.com — Tujuh belas Agustus bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah pondasi bangsa, momentum yang mengingatkan kita akan harga mahal sebuah kemerdekaan. Pergolakan mempertahankan marwah bangsa tak hanya terjadi di kancah nasional, tetapi juga di daerah-daerah, termasuk Kabupaten Indragiri Hilir, yang beribu kota di Tembilahan.
Sejarah mencatat, bara perlawanan rakyat Indragiri Hilir pada masa penjajahan turut mengukir tinta emas perjuangan bangsa. Puing-puing sejarah yang masih tersisa hingga kini menjadi saksi bisu, mulai dari situs bersejarah meriam di Kecamatan Mandah, hingga peran tokoh besar ulama Syekh Abdurrahman Siddiq. Ada pula pahlawan yang diakui secara nasional, seperti Tengku Sulung, Abdul Djalil Ma'roef, dan H. Baharuddin Yusuf, yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan.
"Nyawa yang kita nikmati saat ini, udara yang kita hirup, serta berbagai fasilitas yang kita rasakan, semua tak lepas dari jerih payah para tokoh bangsa kita, khususnya di Indragiri Hilir," ujar Muhammad Iqbal Samsudin, SH., MH., anggota Komisi I DPRD Indragiri Hilir.
Iqbal mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan peringatan 17 Agustus sebagai momentum memperkuat persatuan dan persaudaraan. "Mari kita bersatu tanpa terpecah-belah, memupuk kekeluargaan, dan menjaga kedaulatan hingga akhir hayat. Harapan rakyat sejahtera dan Indonesia maju bukan hanya falsafah, tetapi harus menjadi kenyataan yang dapat dirasakan masyarakat Indragiri Hilir," tegasnya.
Semangat itu sejalan dengan amanat pembukaan UUD 1945 yang menyatakan, "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan..."
Iqbal juga mengingatkan bahwa mempertahankan kemerdekaan bukanlah perjuangan singkat. "Ini bukan soal sehari dua hari, sebulan atau dua bulan, tetapi perjuangan berabad-abad yang diiringi teriakan 'Merdeka atau Mati' dan takbir 'Allahu Akbar' sebagaimana dikumandangkan Bung Tomo di Surabaya," ucapnya.
Meski masih banyak pekerjaan rumah di Indragiri Hilir, Iqbal optimistis bahwa dengan persatuan dan semangat kemerdekaan, pembangunan dapat terus berjalan. "Kita butuh ruang, waktu, dan kesungguhan untuk menuntaskan berbagai persoalan. Namun, dengan semangat yang diwariskan para pejuang, saya yakin Indragiri Hilir bisa lebih maju," pungkasnya.
Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 tahun ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi panggilan bagi hati setiap warga untuk merenung, menghargai, dan melanjutkan perjuangan yang telah dimulai oleh para pahlawan bangsa.***